Baik-buruk, tinggi-rendah, sukses-gagal dan dualitas lainnya merupakan cara manusia membuka pintu pengertian. hanya saja ketika pintu itu terbuka, dualitasnya tidak ditinggalkan dibelakang justru malah digendong kemana-mana. Dalam wajah yang berbeda mereka menggunakan pengetahuan, pengalaman, tradisi dan agamanya untuk menghakimi dan menyakiti orang. untuk itulah orang bijaksana selalu menyediakan diri untuk belajar dan mendengar. Dengan belajar manusia berhenti menjadi kura-kura yang menganggap rumah kecilnya adalah satu-satunya rumah yang layak dihuni. Dengan mendengar manusia menyatu bersama samudra pengertian yang maha luas.
Bila ada sesuatu yang terlihat aneh dan susah dimengerti kemungkinan terlalu inggi atau terlalu rendah dibandingkan tingkat kemampuan pemahaman sekarang. mungkin itulah sebabnya manusa mempunyai dua telinga dan dua mata tapi hanya punya satu mulut. Dengan kata lain pemahaman lebih mungkin terbuka bila lebih banyak mendengar, melihat dan merasakan kehidupan sekaligus lebih sedikit bicara. Bagi yang sudah menyentuh batas-batas rasionalitas dan mengerti jika pengetahuan bisa menjadi penghalang pemahaman, akan tersenyum sambil berbisik ternyata bisa mendengar adalah sebuah berkah.
Dengan mendengar dan belajar, orang-orang bijak menelusuri sisi-sisi kehidupan. sesuatu yang awalnya terlihat baik belakangan menjadi buruk. kesediaan untuk belajar dan mendengar itu seperti air mengalir di sungai pada akhirnya ia akan sampai di samudra. Saat ada pengertian yang berbeda mengenai banyak hal (filsafat, agama, ideologi, budaya dan tradisi) tidak buru-buru diberi judul salah. Kesediaan untuk mengerti itu adalah sebuah berkah "the gift of understanding" dengan terbukanya pintu-pintu pengertian akan tercipta persahabatan, persaudaraan. Ia yang berada di puncak pemahaman akan berbisik "the best theologian is the best one who never speaks about God" Pemahaman yang dibimbing oleh sebuah persahabatan ini, ada yang menyebutkan bahwa yang dua telah menjadi satu jadi sudah tidak ada lagi dualitas.
Membantu meringakan beban penderitaan mahluk adalah yang paling baik, bila tidak bisa cukup jangan menyakitinya. Inilah prinsip Survival of the kindest. Kehidupan jadi tahan guncangan karena kebajikan. Semua kehidupan dimulai dari kebaikan pihak lain. Ketika lahir kita lahir kita berhutang pada orang tua dan lain-lain. Nanti ketika meninggal pun harus bergantung pada kebaikan orang lain. Compassion is the best protection, Kehidupan sesungguhnya tidak saja menjaga sekarang tapi juga menjaga sampai setelah kematian.
Bukan hal yang rumit untuk diikuti bukan..?! penggalan artikel Gede Prama; kompas, diatas, memberikan pemahaman tentang beberapa hal yang sedikit rumit, alasan tentang mengapa kita berbuat seperti ini atau mengapa orang lain berbuat seperti itu. Belajar dan mendengar dengan baik kemudian memahaminya maka titik kebahagian akan mudah dicapai dengan sempurna. tapi ketika itu tidak pernah terwujud ya sudahlah karena tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini jadi jangan takut tidak pernah sampai pada titik itu. Seseorang bilang "do something for living" dan saya menjawab " i do something for living" tapi ternyata itu tidak tepat, seharusnya "I living for do something" agak sedikit beda topik dengan artikel diatas memang ketika dia berkata seperti itu tapi kata-katanya menarik dan membuat saya berfikir bahwa kita hidup untuk melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain sehingga mereka dan saya bahagia dan salah satu caranya adalah bekerja. (Thank u bro..u are the best i ever had and I love u Geoff....)